Postingan

Menampilkan postingan dengan label #TheParagraph

FIRASAT #TheParagraph13

Cek di Sebelumnya di #TheParagraph12 5 Bulan kemudian... Aku baru saja keluar dari sebuah gedung televisi swasta. Keluar dengan senyuman cerah, sama cerah nya dengan cuaca hari ini. Sepertinya sebentar lagi Pelangi yang dijanjikan itu akan lengkap warnanya. Namun tetiba di pinggir jalan sebuah mobil hampir saja menyerepetku dari arah belakang. Beruntungnya aku masih bisa menghindar meskipun aku harus tetap jatuh di depan orang banyak. Sebuah mobil minibus F 9678 BD berwarna hitam melaju begitu kencang. Orang-orang mencoba menenangkan aku yang masih saja menggerutui mobil itu. Tak lama aku pun akhirnya mendengar kabar bahwa tak jauh dari tempatku telah terjadi peristiwa tabrak lari. Korbannya adalah seorang bapak yang baru saja membeli lampu dari toko tersebut. Korban pun sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Lalu lalang orang-orang yang datang menghampiri tempat itu. Sayangnya aku tidak. Aku hanya berdoa semoga korban tersebut bisa selamat. Aku harus pergi. Dia sudah menungg...

Manda dan Biru #TheParagraph12

Baca sebelumnya di  Kejutan #TheParagraph11 1st paragraph by  Desvian Wulan Kebahagiaan itu ada dalam diri kita sendiri. Kurasa aku menyetujui gagasan ini. Selama ini aku terlalu sibuk dengan pikiranku tentang mereka yang tak terlalu suka dengan pilihanku hingga membuatku menjatuhkan diri dalam ruang kesedihan yang ku ciptakan sendiri. Aku melihatnya tersenyum di sana pun sudah menumbuhkan kebahagiaan dalam hatiku. Andai aku bisa mendekatkan langkahku ke sana sekedar ikut merasakan kehangatan itu, sayangnya aku tak ingin merusaknya. Senyum yang satu dibalas dengan senyuman yang lebih hangat. Bahagia, sesederhana itu. xxx Di kamar kost ku yang kecil ini aku membaringkan tubuhku yang telah lelah berputar-putar di jalanan. Lagi-lagi aku dibuatnya tersenyum. Peristiwa tadi tak akan pernah mungkin aku lupakan. Sahabatku memberi arti kebahagiaan untukku. Tadi itu benar Manda dengan dua orang bocah yang melingkupinya dan seorang kepala keluarga yang melindunginya. Seorang ke...

Kejutan #TheParagraph11

Seperti waktu yang terus berjalan, aku tak mungkin berhenti sampai di sini. Kelak aku pasti akan membungkam mulut-mulut itu. Hanya saja aku belum dipertemukan dengan waktu yang akan menyambut segala pilihanku. Inilah pilihanku. Pilihanku yang berada diantara bukan pilihannya. Mungkin inilah salah satu jalan yang terbaik untukku. Aku jadi teringat perkataan seorang teman lama ketika aku bertanya tentang letak kebahagiaan. Dimanakah kebahagian itu berada. Bagaimana bisa menemukan kebahagiaan. Dan dengan cepat dia menjawabnya begitu sederhana namun penuh keyakinan. Letak kebahagiaan itu ada pada hati. Pada cinta. Menurutnya cinta ya cinta. Tak pernah akan ada kata benci di dalamnya. Tak perlu mencari dimana letak kebahagiaan itu. Karena kebahagian itu manusia yang ciptakan sendiri. Kebahagian itu ada pada diri manusia sendiri. Melakukan segala hal dengan cinta. Maka kebahagiaan pun akan datang. Ahh, aku jadi kangen kamu. Mengingat hal-hal dulu yang pernah terjadi adalah bagian yang t...

Pergi #TheParagraph10

Cek sebelumnya di Menunggu Pelangi #TheParagraph9 1st Paragraph by Desvian Wulan Hidup selalu tentang sebuah pilihan. Tak peduli benar atau salah, kita tetap harus memilihnya satu seolah kita memang tak punya pilihan. Seperti aku yang memilih untuk mengabaikan setiap kata-kata yang keluar dari bibir mereka. Ketika aku selalu berkeras bahwa keputusan yang aku ambil adalah pilihanku, yang akan kujalani dalam hidupku. Lalu mereka pun memilih untuk menjaga jarak, atau lebih tepatnya menjauhiku karena pilihanku. Lalu apa yang salah dengan pilihanku? Hanya karena aku tak mengikuti kata-kata mereka lalu menyisihkan dari sesuatu yang disebut keluarga? Ah, betapa mereka tak pernah tahu kalau aku butuh mereka di saat sulit seperti ini. Keluarga, tempat yang dulu selalu menjadi tujuanku pulang dan mendapatkn kehangatan yang penuh dukungan. Tempat yang kini menjelma bak tempat asing yang dingin, miskin dengan senyum dan kata-kata untukku. “Eca...! Turun...! Ada Om Anwar sama Tante Dwi nih di...

Menunggu Pelangi #TheParagraph9

Gambar
Diamku bukan berarti emas. Bahkan usahaku bukan berarti mimpinya. Seluruh pilihanku bukan pilihannya. Karena aku bukan-nya. Telingaku memerah memanas terbakar lagi atas kata itu. Suara tak menjadi masalah ketika kata dapat lebih tajan dari suaramu yang terkadang merdu. Mata tak lagi dapat membendung. Rupanya sudah terlalu penuh menahan hentakan air itu. Hati tak lantas menerim. Ini terlalu sakit. Melebihi rasanya patah hati, sakit gigi, atau tak makan seharian. Kaki dan tangan menjadi sulit bergerak. Karena sama-sama merasakan ada yang salah dengan tubuh ini. Padahal rasa-rasanya kaki ini ingin melangkah lebih jauh dan melompat lebih tinggi. Serta tangan yang ingin berbuat lebih banyak, menulis lebih baik. Sedangkan mulut hanya bisa terkunci menahan dahaga yang sudah lama ada. Tak mampu lagi berbicara banyak. Ahh untuk apa aku berbicara sedangkan bicaraku saja tak akan mampu didengar dengan pemahama yang tak meu berkembang. Aku akan selalu salah dan dianggap kecil olehhnya. Kata ...

Gadis Kecilku #TheParagraph8

Gambar
Entah perasaan apa yang ada dalam diri ini. Tubuhku seperti melayang, ringan, tak bernyawa. Pikiranku bebas  bergerak seperti terbawa maunya arah angin kemana. Hari ini begitu terasa kosong. Aku tak dapat mengendalikan seluruh bagian tubuhku. Dada ini seperti meringis, menahan sesuatu. Sesuatu itu seperti kotak besar yang berusaha masuk ke lemari kecil. Mendesak memaksa agar kotak itu bisa masuk. Dan aku merasa lemah menghadapinya. Biru. Sepertinya warna yang kurasakan hari ini memang biru. Aku benar-benar lemah. xxx Hari ini aku menyediakan makanan favoritnya. Pisang goreng. Ihfa hanya menyukai pisang goreng, meskipun sehari-hari aku selalu memaksanya untuk memakan makanan yang lain. Sebagian ada yang masuk, namun adapula yang dimuntahkan. Aku menyimpan sepiring penuh pisang goreng di kamarnya. Di kamar tempat dia biasa bermain sendiri. Sebenarnya tempat biasa dia menyendiri. Karena kamar ini akan selalu terkunci jika kami semua berangkat bekerja. Kami tak pernah bermaksud...

Lily #TheParagraph7

Gambar
1st paragraph by  Desvian Wulan Matahari bahkan belum ingin memancarkan sinarnya yang berwarna kuning keemasan pagi ini. Pun dengan udara yang masih saja terasa dingin menusuk tiap lapis epidermis meski aku sudah melapisi pakaianku dengan satu lembar sweater rajut dan satu jaket tebal di lapisan paling luar. Suara jangkrik terdengar masih berlomba, menghampiri telingaku begitu pintu kayu itu kubuka. Sambil sesekali terdengar suara katak menimpalinya. Kubuka lipatan payung merah muda dengan beberapa gambar Lilium candidum L di tepiannya. Hujan masih belum berhenti sejak semalam. Samar-samar aku melihatnya di sana, di ujug jalan itu. Berdiri dengan tubuh menyandar dinding, mencoba melindungi dirinya dari rintik hujan yang masih rindu mencumbu bumi. Kepalanya tertunduk memandang air menggenang di lubang  kecil tepi jalan. Sesekali sepatunya memecah genang air di dekatnya. Bibirku melengkung bersaman dengan ingatan yang melayang ke masa dua puluh tahun lalu, ketika aku men...

Malam itu... #TheParagraph5

Gambar
1st Paragraph by Desvian Wulan Lari. Hanya itu yang ada di otaku saat ini. Aku hanya perlu keluar dari tempat ini dan berlari secepat mungkin menuju jalan besar di ujung sana. Semoga masih ada mobil atau kalau beruntung, aku bisa menemukan angkutan yang bisa membawaku ke kota. Tapi rasanya kemungkinan angkutan lewat itu sangatlah kecil karena ini sudah pukul sembilan malam, dan itu sudah dianggap larut malam oleh tempat ini. Tetiba ada sesuatu yang membuatku harus menghentikan langkahku. Ada yang menarikku. Nafasku tercekat. Pelan kubalikkan badanku sambil berdoa bukan ia yang ada di sana. Tetapi sepi. Aku hanya melihat bayangan pepohonan pinus dibalik kegelapan malam sejauh mata memandang. Tak ada sesiapapun di sana. Ku lihat ke arah nbawah. Ternyata rok panjangku tersangkut batang kayu. Sialan. Aku menarik rok itu dengan kasar sehingga rok-ku malah robek. Entah sudah bagaimanakah tampangku malam ini. Pasti sudah menyaingi tampang sang kunti, atau bahkan mungkin kunti lebih baik d...

The Gnomes and Man #TheParagraph4

Gambar
bugisposonline.com Mungkin inilah salah satu hasil dari rasa syukur yang sering kami panjatkan. Kehidupanku begitu damai bersama kedua orang tuaku, kedua kakakku, dan dua orang adikku.  Bahagianya ketika matahari tetap terbit di posisi seharusnya, memancarkan energi yang mengakibatkan tubuh selalu segar. Meski hawa dingin di pagi hari terkadang menjadi godaan buruk untuk meraih secercah sinar. Tapi tinggal di daerah dengan masyarakat yang begitu saling menghormati dan saling menghargai adalah suatu rasa syukur yang luar biasa. Bisa berdampingan tanpa ada rasa buruk di hati masing-masing. Pagi itu keluargaku dan masyarakat yang lain sedang  melaksanakan kerja bakti mingguan di setiap Sabtu. Kegiatan yang dapat memberikan banyak manfaat bagi kami semua. Rumput-rumput liar hilang, sampah-sampah pun musnah. Begitu nyamannya tempat kami tinggal. Hingga beberapa detik kemudian, kami mendengar suara gemuruh yang mengakibatkan burung-burung beterbangan di atas kami. Lama-lama ge...