Postingan

Menampilkan postingan dengan label #fiksi

Kamar #2

Aku berdiri tegak berusaha kokoh dalam dasar yang sudah merapuh. Aku bertahan dari sapuan cuaca, debu, juga usia yang tak lagi bisa menipu diri. Tapi dengan sekuat tenaga aku berusaha melaksanakan tugas ini. Melindungi mereka dari segala yang mereka tak inginkan. Baik panas ataukah dingin. Ku pikir mereka menyadari tugas beratku ini. Maka mereka biasa mempercantik diriku dengan segala yang mereka inginkan. Meski mereka kadang lupa bahwa mereka sempat menyakiti diriku. Mereka belum memahami aku lebih baik atau mungkin aku yang tak begitu mengerti akan peranku di sini. Apapun ekspresi mereka, aku pasti tahu. Karena mereka selalu memandangiku di beragam suasana hatinya. Mereka lebih sering tersenyum terhadapku. Mungkin itu adalah salah satu ucapan terima kasih? Ya, mungkin saja. Aku pun bahagia. Seiring bertambahnya usia mereka mulai melupakanku. Mereka mulai tak menggubris keberadaanku di sini. Mereka melupakan perananku terhadap hidupnya. Mereka tak menganggapku lagi. Mau tak ...

Kamar #1

Mereka bilang aku bersih. Mereka juga bilang aku nyata apa adanya. Mereka bilang aku adalah mereka ketika mereka memandangku jelas. Sebagian dari mereka menyukaiku karena aku tak pernah berbohong. Pun sisanya tentu saja ada yang membenciku karena aku memberikan kenyataan yang tidak mereka sukai. Aku memahaminya. Aku bersandar pada dinding yang kokoh. Bersahabat suhu yang sesekali berubah antara siang dan malam. Aku begitu hafal seluk beluk ruangan ini. Aku memandangi sekelilingku. Tidak banyak yang berubah sejak aku pindah ke sini. Waktu aku datang, baru ada sebuah kasur busa tanpa ranjang dan lemari baju yang usang tak terurus. Sampai akhirnya terisi selayaknya kamar perempuan pada umumnya. Kali ini aku kotor karena ketiadaan mereka. Mereka melewatkanku dengan senyum yang menggembirakan sebelumnya. Dengan tawa yang seharusnya menjemputnya agar kembali ke sini. Tapi mereka telah pergi. Aku tak lagi menjadi bagian dari mereka. Mereka semua tak berpamitan padaku. Hanya saja a...

Gift

Siang selalu berganti malam. Begitupun dengan matahari yang selalu bertukar posisi dengan bulan. Seperti itu sajalah selama ini hidupku. Tertata dengan baik di tempatnya. Tapi bagaimanapun tertatanya, ada sesuatu yang belum berdamai dengan hati ini. Aku mengkhawatirkannya. Setiap detik yang ada telah ku manfaatkan dengan sebaik mungkin agar aku tidak harus bersusah payah merindukannya. Tapi sedetik saja tanpa kegiatan, rasanya dia selalu langsung hadir di kepala ini. Ini akibat komunikasi yang terputus. Sudah hampir 5 bulan aku tak pernah berkomunikasi dengannya. Rasanya seperti perempuan bersatus tapi single. Aku tahu ini bukan kesalahannya. Tapi ini konsekuensi antara dia dan aku dimana telah ada kesepakatan untuk memakluminya. Berusaha untuk selalu mempercayai satu sama lain. Hanya itu satu-satunya jalan untuk kami agar hubungan ini dapat terus berjalan. Kepercayaan yang semestinya dapat dibayar mahal dan pada akhirnya dapat berdiri kokoh dalam gerbang pelaminan. Ah, khayalan ini...