Postingan

Menampilkan postingan dengan label #FF2in1

Biarkan Aku

Lingkar matanya yang menebal mendukung keadaan matanya yang kian melelah. Namun tak mengurangi derap langkahnya, bahkan langkahna kian mantap berjalan mengikuti apa yang dikehendakinya. Apa yang ada di pikirannya. Apa yang ada di hatinya. Apa yang dimimpikannya. Diamnya bukan berarti emas dan usaha ini bukan mimpi mereka. Semua yang ada adalah dirinya. Dia tak menghiraukan mereka yang semakin memanasi telinga ini. Karena seluruh pilihanku bukan pilihan mereka. Suara-suara mereka tak lagi masalah ketika tatapannya dan ucapannya bisa lebih tajam dari suara mereka yang terkadang merdu terbawa angin. This is my passion Dad . Ucapan terakhir itu yang melengkapi ketidak selesaian ucapan ayahnya maupun ibunya yang hanya dapat berdiam diri, menepis air mata yang telah mengalir. “Suara buruk mereka akan menjadi dukungan tersendiri buatku ayah. Dan sebentar lagi ayah akan menemukanku di sana!” tunjuknya terhadap televisi yang ikut sunyi. Suasananya semakin hambar. Antara keyakinan ...

Saksi itu Pintumu

Satu hari bersamamu singkat. Bahkan satu bulan atau mungkin sewindu pun, ini terlalu singkat. Selalu terasa singkat dengan hari-hari penuh senyum dan tawa manis di depanku, di sampingku. Binar matamu sanggup memberiku semangat untuk terus mengetuk pintu rumahmu setiap pagi, siang atau malam. Begitu kuatnya daya magnetmu, menguatkan hatiku yang selalu ingin lepas dan melekat dengan hatimu. Dari senyummu pun aku tahu kau tahu tentang semua ini. Aku yakin itu, hanya saja engkau tak pernah mau menganggap hal itu sebagai kenyataan yang membahagiakan untukmu, bahkan untukku pun tidak. Kesetiaanku pada dirimu sama seperti kicauan burung di setiap pagi, yang selalu setia membangunkanmu dalam dekapan hawa dingin dan cahaya yang mlai berkilauan. Tapi kamu hanya bisa menampakkan senyum sebiasa engkau menyambut burung-burung itu. Aku mencoba memahaminya. Hingga aku menyadarinya. Dia telah mengalihkan matamu, kebiasaanmu, hidupmu. Aku tersingkir secara kasar, dan hilang dalam biasannya. I...

Yeah, This is my Love

2 hari yang tak cukup cerah mempertemukan kami dalam waktu yang sempit, dalam sedikit kata penuh makna, dan dalam langkah yang sempit. 40 hari yang sama. Tak memenuhi hari-hari yang cerah. Begitu adanya kejujuran memberi segala arti dalam senang dan duka. Dalam keyakinan dan keraguan. Kekecewaan yang diluar dugaan. Butuh beberapa hari tubuh ini mampu untuk menguatkan diri dan menerima segala masa lalu yang pernah ada. Karena hati tak mampu bicara semudah mulut ini. Karena hati tak mampu melangkah secepat kaki ini. Derai hujan yang ada ketika itu selalu menemani hari-hari itu. Sampai Tuhan mampu memberi kekuatan super power, yaitu ‘ikhlas. Dan aku bilang “ Don’t leave me ” 7 hari bersamamu melawan cuaca, menemani dalam senyum dan tawa, menguji kesabaran, lagi-lagi mendapat ujian kesabaran. Adalah hal-hal yang tak pernah terpikirkan. Baik dan buruknya, aku semakin tau. Aku ikhlas, dan aku tak kan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Aku tak kan membuatmu kembali men...

2 manusia

Mataku tertutup. Sesuai permintaannya. Dua manusia berjalan bersama dengan arah yang sama dalam kepastian yang tak pasti. Namun, bagiku ini semua adalah seni. Hidup ini adalah seni. Dimana seni lukis, peran, suara, tari, bergabung menjadi satu kesatuan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seperti karang-karang yang gugus akibat kapal yang terseok angin. Namun karang tetap kokoh meski harus retak dan berusaha bertahan. Karena karang tersebut adalah dua manusia yang keras dalam melangkah. Ini bukan lagi mimpi ketika aku dengar...... “Saat ini takkan pula kau di rundung pilu. Karena pilu yang mengancam itu kini akan menjadi cahaya dalam wajahmu, dalam hidup kita...” Mataku terbuka. Atas dasar permintaannya. Sebuah lingkaran yang berkilauan indah di bawah bulan purnama ini dengan senyum lembayungnya yang tak akan pernah sirna oleh pergantian tahun. Tahun-tahun yang selalu membawa usia kami namun tak kan sanggup membawa indahnya lingkaran indah di jari manisku. “Malam in...

Wanita Indonesiaku

Rindu lama yang tak ubahnya semangkuk manisan yang selalu menggoda air liur ini untuk mengalir menembus ruangnya, batasannya. Rasanya sama persis seperti saat aku bersiap-siap berangkat ke puncak gunung Rinjani. Namun rasa-rasanya, rasa ini bisa melebihi itu semua. Ini semua terlalu manis, karena dia terlanjur manis. Kemarin lusa adalah masa ketika aku bertekad dan bersungguh-sungguh untuk mengatakan bahwa aku cinta negeri ini, Indonesiaku. Aku cinta bangsaku. Aku cinta wanita Indonesia itu! Langit nampak jelas mengembangkan senyum hangat atas keputusanku. Sepertinya beliau mendukung. Aku menciptakan jalanku untuknya dengan indah, biar hari esok wanita Indonesia itu akan sealu terkenang dengan kesungguhanku. Hari ini akan aku hadirkan yang terindah untuh wanita Indonesiaku. Tiba-tiba, abu-abu. Langit menjadi jenuh dan hujan pun merintik. Wanita Indonesiaku tak lagi berseorang diri. Dia bersama, DIA !